Mengenal Penyakit Thalasemia Pada Anak

Mengenal Penyakit Thalasemia Pada Anak

Ada beberapa situasi anak yang terkadang tidak disadari oleh orang tua atau bahkan cenderung diremehkan karena dianggap normal dan normal. Seperti saat bayi sering terlihat pucat dan lelah, mudah mengantuk, dan tampak kuning. Padahal kondisi ini bisa jadi merupakan gejala talasemia pada anak atau bayi.

Berbeda dengan anemia pada umumnya, thalassemia memerlukan perhatian khusus karena penderitanya membutuhkan transfusi darah dan obat-obatan yang cukup dan memadai sepanjang hidupnya.

Apa itu thalasemia?

Menurut idai.or.id, thalassemia merupakan salah satu penyakit genetik di dunia yang ditandai dengan tidak adanya atau berkurangnya salah satu rantai globin, alpha atau beta. Keduanya merupakan komponen utama hemoglobin normal dalam darah manusia.

Karena talasemia merupakan penyakit bawaan, maka jika anak kelak menikah juga berpotensi menurunkan penyakit tersebut pada anak. Oleh karena itu, jika mungkin saja orang tua merupakan pembawa penyakit talasemia, maka harus dilakukan pemeriksaan terhadap diri dan keturunannya agar dapat diidentifikasi secepatnya dan tidak menyebabkan kemungkinan anak lain mengalami hal yang sama.

Ada dua jenis thalasemia yang umum, yaitu alfa dan beta. Indonesia merupakan salah satu negara dengan kejadian thalassemia yang tinggi dengan kasus beta-thalassemia terbanyak. Hal ini dapat dilihat dari frekuensi kelainan genetik dan relevansi gen yang menentukan beratnya penyakit yang diturunkan.

Kenali gejala thalasemia pada anak

Anak penderita thalassemia seringkali tampak pucat akibat penurunan kadar hemoglobin atau bahkan penyakit kuning akibat hemolisis yang parah. Selain itu, thalassemia juga dapat ditandai dengan munculnya benjolan di perut bayi yang terjadi akibat pembesaran limpa akibat kompensasi anemia kronis.

Talasemia dini bisa dideteksi, pengobatan bisa memperpanjang kualitas hidup bayi. Thalasemia yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi seperti gagal jantung, pertumbuhan terhambat, kerusakan organ, gangguan hati, perawakan pendek, diabetes melitus, kemandulan, kulit hitam dan kematian.

Pengobatan Thalasemia pada bayi dan anak-anak

Anak atau bayi yang terdiagnosis thalassemia dapat diobati dengan transplantasi darah tali pusat dan transplantasi sumsum tulang. Sayangnya, tidak semua penderita thalasemia cocok dengan metode pengobatan ini. Walaupun transfusi darah secara teratur diperlukan untuk pasien dengan talasemia beta, hal ini dapat menyebabkan sejumlah komplikasi yang terjadi akibat penumpukan zat besi di dalam tubuh.

Anak penderita thalasemia dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung nutrisi lengkap seperti karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Namun sebaiknya hindari makan makanan yang tinggi zat besi seperti hati dan daging merah serta produk olahannya, Bunda bisa menggantinya dengan ikan, ayam atau susu rendah zat besi.

Jika anak Anda menderita thalasemia, sebaiknya lebih banyak mengonsumsi makanan yang mengandung lemak atau senyawa yang menghambat penyerapan zat besi seperti biji-bijian dan teh serta hindari asupan vitamin C yang justru membantu meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh.

Demikian beberapa hal penting mengenai Thalasemia pada anak, untuk bisa mendapatkan artikel parenting lainnya silahkan menuju Orami disana anda bisa mendapatkan berbagai artikel parenting yang lebih detail.

About the author